Tradisi Mahasiswa
Aliendheasja Fawilia - 15306009
Saya tidak bisa melupakan betapa bangganya keluarga saya ketika mengetahui saya diterima di ITB. Diantara orang yang paling bangga terhadap prestasi saya yang satu itu, ayah saya adalah orang yang paling bangga. Sejak saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas, ayah sudah berulang-ulang kali menceritakan berbagai macam hal yang berkaitan dengan ITB. Ada dua hal yang tidak pernah bosan diceritakan oleh ayah, ospek dan arak-arakan saat wisuda.
Ayah saya memang sangat berjiwa ITB. Beliau adalah mahasiswa ITB tahun 1970-an yang sangat idealis namun realistis. Era 1970-an adalah era yang sangat sulit untuk kegiatan kemahasiswaan. Walaupun setiap mahasiswa baru harus mengikuti minimal dua unit kegiatan, satu unit kegiatan olahraga dan yang satu lagi terserah minat dan bakat, namun langkah gerak mahasiswa pada zaman itu sangat terbatas. Terutama setelah ada peristiwa ada ABRI masuk kampus tahun 1978.
Sebagai mahasiswa yang mendapat gelar mahasiswa abadi, ayah saya membutuhkan waktu delapan tahun hingga akhirnya mendapat gelar insinyur, sangat menjunjung tinggi pentingnya kegiatan kemahasiswaan. Ayah saya hampir tidak pernah menceritakan tentang perjuangan beliau belajar untuk lulus suatu mata kuliah. Saya bahkan baru mengetahui perusahaan tempat ayah saya melaksanakan kerja praktek, beberapa waktu sebelum saya sendiri harus melaksanakan kerja praktek. Buat ayah saya, dua hal yang paling berkesan selama menjadi mahasiswa ITB adalah saat ospek dan arak-arakan wisuda.
Saya masih ingat detil cerita saat ayah menjalani ospek. Ayah saya dipaksa untuk memakai topi berbentuk aneh dan para mahasiswi teman ayah saya rambutnya harus dikepang. Semua mahasiswa baru tidak boleh ada yang naik kendaraan pribadi. Kakak kelas sudah menunggu di setiap belokan di sekitar ITB untuk berjaga-jaga. Uniknya, setiap hari pasti saja mahasiswa baru asal Jakarta yang nekat terlihat dengan menggunakan kendaraan pribadi, mobil sendiri lagi. Mahasiswa seperi itu langsung habis dimarahi. Ayah juga bercerita tentang bagaimana beliau dan teman seangkatannya diteriaki, ditendang, dipukul, dan disuruh merayap di tanah. Yang unik, ayah masih ingat bahwa dia pernah diberikan tugas untuk membawa sekotak korek api merk cap tiga durian. Beliau keliling-keliling Dago semalaman, mencari korek api dengan merk yang sama. Sampai akhirnya ayah menyerah dan membuat sendiri merk cap tiga durian dengan logo merk buatannya sendiri.
Saya selalu bilang pada ayah, saya merasa ragu masuk ITB. Saya tidak yakin bahwa saya dapat menghadapi semua tekanan dalam ospek tersebut. Ayah saya bilang agar saya jangan takut. Ospek itu hanya sebentar. Ospek akan berakhir sebelum saya sadar bahwa saya sedang mengalaminya, begitu katanya. Ayah tidak pernah bosan menceritakan detik-detik berakhirnya ospek. Beliau dan teman-temannya berdiri mengelilingi api unggun dan membakar semua atribut ospek mereka. Setelah itu, mereka semua menangis bersama, terharu karena ospek telah usai. Ospek adalah salah satu kenangan manis yang dilalui oleh ayah selama beliau menjadi mahasiswa. Saat menjalaninya memang berat, namun setelahnya, beliau mengaku punya banyak sekali kenangan.
Hal lain yang meninggalkan kenangan manis pada beliau adalah kenangan saat arak-arakan wisudaan. Hingga sekarang, jika ayah mengantarkan saya kedalam kampus dan melewati kolam di depan program studi Teknik Mesin, ayah akan sibuk menceritakan pengalamannya saat arak-arakan wisuda. Tidak peduli sudah beribu kali mendengar cerita yang sama, ayah masih tetap akan mengulang cerita itu hingga sekarang. Ayah tidak pernah bosan menceritakan tentang betapa meriah hari wisudaannya. Beliau cerita bahwa beliau diangkat oleh masa himpunannya sambil dielu-elukan. Sampai akhirnya mereka sampai di depan program studi Teknik Mesin, di depan Kolam Mesin. Tanpa belas kasihan, mereka pun dijatuhkan ke dalam Kolam Mesin tersebut. Ayah yang bukan berasal dari jurusan Teknik Mesin merasa puas sekali bisa diceburkan ke dalam Kolam Mesin.
Jika dibandingkan antara cerita-cerita ayah dengan kenyataan yang saya hadapi sekarang saat berkegiatan kemahasiswaan, saya jadi kecewa sendiri. Sejak sekitar tahun 2005, ospek sudah diharamkan di lahan ITB. Berbagai jenis ospek dihalang-halangi dengan berbagai cara oleh pihak rektorat. Mulai dari ospek terpusat yang biasa disebut dengan OSKM, hingga ospek di masing-masing himpunan mahasiswa. Kemudian mulai tahun 2009 ini, arak-arakan saat wisuda pun dilarang. Arak-arakan dilarang dalam bentuk apapun, mulai dari penjemputan wisudawan di Sabuga, hingga tidak adanya arak-arak keliling kampus.
Pelarangan ini terjadi tidak lepas karena mahasiswa banyak melakukan pelanggaran. Misalnya saja dalam segala kegiatan ospek, sudah dilarang berbagai macam kegiatan kekerasan, namun masih saja ada yang diam-diam melakukannya. Masih saja ada senior yang melaksanakan kegiatan ospek semata-mata demi merayakan euforia memiliki adik kelas sehingga tidak memperhatikan arti dari setiap tindakannya. Pihak rektorat juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Mereka juga bukannya belum pernah memberikan peringatan-peringatan kepada mahasiswa penyelenggara ospek. Sudah banyak sekali teguran yang mereka berikan, mulai dari ancaman skorsing hingga pembekuan himpunan, tapi teguran-teguran tersebut hanya dianggap angin lalu oleh mahasiswa. Setiap selesai mendapatkan teguran, mahasiswa kembali lagi melakukan kesalahan yang sama hingga akhirnya rektorat memutuskan bahwa mahasiwa memang harus diberikan larangan sepenuhnya.
Contoh pelanggaran lainnya adalah mengenai larangan arak-arakan wisuda. Akar permasalahan dari arak-arakan wisuda ini sebenarnya terdapat di arak-arakan wisuda puluhan tahun yang lalu, sejak ayah saya baru menginjakkan kaki di ITB. Di zaman ayah saya dulu, memang ada skenario perkelahian antar himpunan yang sengaja dibuat. Perkelahian ini dibuat karena keidealisan mahasiswa yang menganggap bahwa mahasiswa ITB harus kuat menghadapi siapa pun dan harus mau melawan siapapun yang salah, termasuk rekan satu almamater. Lama-kelamaan, perkelahian mahasiswa ini pun kehilangan maksud utamanya. Perkelahian antar himpunan yang kemudian terjadi saat arak-arakan hanya menjadi ajang pamer kekuatan masing-masing himpunan. Tradisi pertunjukan ego antar himpunan ini pun berlanjut hingga setahun yang lalu, sampai beberapa himpunan akhirnya terlibat dalam suatu perkelahian yang sangat tidak berarti, bahkan sekarang massa himpunan yang terlibat dalam perkelahian itu pun tidak ingat apa penyebab perkelahian tersebut. Sejak perkelahian yang terjadi saat arak-arakan wisuda Maret 2009, arak-arakan saat wisuda pun dilarang untuk dilaksanakan.
Saya sangat sedih melihat banyaknya larangan dalam melaksanakan tradisi-tradisi kemahasiswaan ITB. Semakin sedih karena ayah saya justru tidak pernah menceritakan bagaimana dia berjuang untuk lulus ujian, ayah saya selalu mengetengahkan pembicaraan tentang pentingnya bergabung dalam kegiatan kemahasiswaan dalam berbagai bentuk. Saya yakin bapak-bapak di rektorat yang juga alumni ITB masih peduli dengan berbagai macam tradisi kemahasiswaan yang sifatnya baik dan hanya dimiliki oleh ITB. Suatu kebanggaan untuk bersekolah di sebuah institut terbaik bangsa yang memiliki banyak sekali ciri khas dibandingkan dengan perguruan tinggi lain. Namun untuk mempertahankan tradisi tersebut, harus ada kerjasama dari dua belah pihak, rektorat dan mahasiswa. Pada intinya, rektorat pasti akan mendukung setiap kegiatan yang tujuannya baik dan mahasiswa pun pasti akan lebih senang jika setiap kegiatan pelaksanaan tradisi kemahasiswaan berlangsung dengan baik.







3 comments:
iya sih... sedih juga, soalnya sekarang ngerasainnya ospek tuh biasa aja. cleng ilang.
mungkin butuh penyamaan persepsi dan niat baik dari masing masing himpunan. untuk mempertahankan tradisi tapi dengan cara yang baik, jadinya rektor juga gak bakalan segitu parnonya ngelarang ini itu.
gak tahu nih wisuda kita gimana lien? hehehe. semoga berkesan
alien, knp ya, cerita ttg ospek dr bokap lo sama plek plek plek kayak cerita ospek dr bokap gue?? itu ttg korek api 3 duren masi diulang2 di rumah gue ampe skrg dah... sama yg merayap itu juga sama... tampaknya bapak kita berasal dari era yg sama nih...
tapi opini dari lo ini oke berat, ane sepakat gan!
Post a Comment