Pages

Monday, July 26, 2010

Misery

I knew that Maroon 5 has a new single.
I even watched the behind the scene of the video clip making, thanks to twitter.
but I was gonna wait until they officially release their single here, in Indonesia.
until all my friends keep playing it on their mp3-player and it got me to the point that I can't wait any longer.
So I downloaded it and look for the lyrics.
and now I get why this song has been on my friends' playlist.

Here are the lyrics.
I just CAN'T WAIT for the album!

Maroon 5 - Misery

Oh yeah
So scared of breaking it
But you won’t let it bend
And I wrote two hundred letters
I won’t ever send
Somehow it cuts so much
Deeper then they seem
You’d rather cover up
I’d rather let them be
So let me be
And I’ll set you free

[CHORUS]
I am in misery
There ain’t no other
Who can comfort me
Why won’t you answer me?
Your silence is slowly killing me
Girl you really got me bad
You really got me bad
I’m gonna get you back
Gonna get you back

Your salty skin and how
It mixes in with mine
The way it feels to be
Completely intertwined
It’s not that I didn’t care
It’s that I didn’t know
It’s not what I didn’t feel,
It’s what I didn’t show
So let me be
And I’ll set you free

[CHORUS]
I am in misery
There ain’t no other
Who can comfort me
Why won’t you answer me?
Your silence is slowly killing me
Girl you really got me bad
You really got me bad
I’m gonna get you back
Gonna get you back

Say your faith is shaken
You may be mistaken
You keep me wide awake and
Waiting for the sun
I’m desperate and confused
So far away from you
I’m getting there
Don’t care where I have to go
Why do you do what you do to me, yeah
Why won’t you answer me, answer me yeah
Why do you do what you do to me yeah
Why won’t you answer me, answer me yeah

[CHORUS]
I am in misery
There ain’t no other
Who can comfort me
Why won’t you answer me?
Your silence is slowly killing me
Girl you really got me bad
You really got me bad
I’m gonna get you back
Gonna get you back

Planets and Sun

"It was strange enough to think that Norah knew who I was before I knew who she was. That she'd been in Tris's orbit without me noticing. But I guess you don't see the planets when you're staring at the sun. You just get blinded."
Nick - Nick & Norah's Infinite Playlist by Rachel Cohn & David Levithan (p. 134)

lovey-dovey

I'm sorry if I like mainstream music.
I'm sorry if I like some gay-band-pop-playing-but-trying-to-be-a-rock band.
it's just when I like the song, I just like it.
and please, can't you hear the lyrics in this song?
and the singer sings it with all his heart.
how can you not fall for this?
I can only imagine.

in the mean time,
here are the 'melting' lyrics that has been blowing me away for weeks.

If you don't get it, still.
I give up!

Parachute - The Mess I Made

Should've kissed you there
I should've held your face
I should've watched those eyes
Instead of run in place
I should've called you out
I should've said your name
I should've turned around
I should've looked again

But ohh, I'm staring at the mess I made
I'm staring at the mess I made
I'm staring at the mess I made
As you turn, you take your heart and walk away

Should've held my ground
I could've been redeemed
For every second chance
That changed its mind on me,
I should've spoken up
I should've proudly claimed
That oh my head's to blame
For all my hearts mistakes


But ohh, I'm staring at the mess I made
I'm staring at the mess I made
I'm staring at the mess I made
As you turn, you take your heart and walk away

And it's, you...
And it's falling down
As you walk away...
And it's on me now
As you go...

But ohh, I'm staring at the mess I made
I'm staring at the mess I made...
I'm staring at the mess I made
As you turn, you take your heart and walk away


Sunday, July 25, 2010

I Wanna Hold Your Hand

" 'I Wanna Hold Your Hand.' First single. Fucking brilliant. Perhaps the most fucking brilliant song ever written. Because they nailed it. That's what everyone wants. Not 24-7 hot wet sex. Not a marriage that lasts a hundred years. Not a Porsche or a blow job or a million-dollar crib. No. They wanna hold your hand. They have such a feeling that they can't hide. Every single successful love song of the past fifteen years can be traced back to 'I Wanna Hold Your Hand.' And every single successful exciting moments of hand-holding. Trust me. I've thought a lot about this."
Dev - Nick & Norah's Infinite Playlist by Rachel Cohn & David Levithan (p. 118)

Tuesday, July 06, 2010

Fase Galau

Aku gak pernah punya deh fase galau dalam hidup aku.
Kalau ada perasaan-perasaan menggelikan gitu, biasanya aku nulis, nyanyi-nyanyi kayak orang gila, nonton film romantic-comedy, atau nonton film pure-comedy, demi mengalihkan perasaan-perasaan itu.
Akhir-akhir ini kadang suka curhat, tapi ke beberapa orang tertentu saja.

NAH, demi mengkombinasikan (hampir) semua yang aku sebutkan diatas, nih ada sebuah lagu yang PAS banget menggambarkan perasaan menggelikan yang aku rasakan sekarang.
ada unsur nulisnya, unsur nyanyi-nyanyi, unsur romantis, dan unsur komedi (apalagi kalo sambil ngeliat dandanan Diana Nasution zaman dahulu kala).

Jadi, ini dia!
lagu paling seru untuk didengarkan saat sedang ngerasa aneh-aneh gini.
Selamat menikmati!!!

Diana Nasution

Benci Tapi Rindu

Bukan hanya sekedar penghibur
Diriku ini sayang
Bukan pula sekedar pelepas
Rindumu oh sayang
Sakit hatiku
Kau buat begini

Kau datang dan pergi
Sesuka hatimu
Oh... kejamnya dikau
Teganya dikau padaku

Kau pergi dan datang
Sesuka hatimu
Oh... sakitnya hati
Bencinya hati padamu

Sakitnya hati ini
Namun aku rindu
Bencinya hati ini

Tapi aku rindu

Saturday, July 03, 2010

Saya Sayang Adik Saya

Iseng-iseng, saya nge-search blog saya sendiri untuk tau seberapa banyak saya menulis tentang adik saya. Cukup banyak ternyata, tapi gak sebanyak yang saya harapkan.
Jadi, sehubungan dengan ulang tahunnya adik saya yang tercinta, saya akan menulis sedikit tentang adik saya ini.

Adik saya bernama Aliannisya Fatma Loebis.
Lahir di Bandung, RS. Santo Borromeus, pada tanggal 3 Juli 1992.
Saya ingat sekali situasi saat mama mengandung Alia. Waktu itu saya masih TK, TK Besar.

Mama memang melahirkan Alia di Bandung, padahal papa waktu itu sedang bertugas di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
Walaupun harus terpisah pulau, mama dan papa memaksa agar Alia bisa dilahirkan di Pulau Jawa dan bukan di daerah pertambangan terpencil.
Alasannya karena diantara saya dan Alia ada seorang bayi kecil bernama Amelia Feni Fatma yang lahir dengan berbagai penyakit komplikasi, termasuk sumbing dan jantung, dan akhirnya meninggal di usia tiga bulan. Saat mama hamil Amelia, mama terus-terusan berada di Pomalaa, hingga melahirkan.
Antara mama yang kurang menjaga kandungan saat hamil, atau mama memang kurang gizi sata hamil, atau memang penyakit Amelia yang tidak terdeteksi saat mama hamil, Amelia dilahirkan dengan berbagai kekurangan. Sampai akhirnya meninggal.
Tidak mau mengulang keaadan serupa, sejak mama masih hamil muda, mama sudah pindah ke Bandung dengan keinginan untuk melahirkan di Bandung.

Lalu Alia lahir. sehat walafiat.
Waktu Alia lahir, saya baru berumur 5 tahun.
Saya, seperti anak kecil pada umumnya, selalu iri dengan adik saya.
Saya dulu sangat-sangat-sangat membenci Alia.
Saya iri kalau dia digendong terus-menerus.
Saya kesal karena mama-papa seperti lebih menyayangi dia daripada saya.
Saya marah karena selalu dipaksa mengalah pada Alia yang lebih muda.

Ketika Alia mulai besar, saya masih juga kesal padanya.
Alia tumbuh menjadi pintar dan cantik.
Kulitnya putih dan ramah senyum.
sangat berbeda dengan saya yang sudah gendut dan hitam sejak kecil karena suka makan dan main panas-panasan. Belum lagi saya yang terkenal suka cemberut dan gampang kesal sejak kecil. Alia jadi anak yang lebih 'dipilih' oleh orang sekitar.
Apalagi komentar-komentar Alia yang menggemaskan khas anak kecil.
Sementara komentar-komentar saya dari kecil sudah pedas dan penuh dengan sarkasme.

Lalu, kami berdua semakin besar, sampai akhirnya kami pindah ke Bandung.
Saya sibuk dengan entah apa saja kegiatan saat saya remaja, hingga saya tidak terlalu memerhatikan kehidupan Alia.
Saya baru 'teringat' akan Alia saat saya mulai SMA.
di SMA, saya dulu mulai berpikir "kenapa saya tidak pernah ngobrol dengan Alia ya?"
tapi saya merasa semuanya sudah 'terlambat'.
saya sudah memasuki masa puber dimana saya merasa saya adalah orang dewasa yang paling tau segalanya. saya kemudian menjadi jauh dari Alia karena saya merasa adik saya tidak tau apa-apa, selain itu juga karena memang kita tidak tinggal serumah.
Sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa Alia hampir menganggap saya sebagai 'role model'.
Saya ngerasa banget loh dulu kalau Alia suka lagu yang saya suka. Alia suka film yang saya suka. Alia baca majalah yang saya baca. dan masih banyak lagi hal yang Alia lakukan karena saya dulu melakukannya.

Sekarang, Alia sudah besar.
Hari ini Alia berumur 18 tahun.
Benar-benar tidak terasa.

Pada suatu hari, waktu itu kami sekeluarga sedang berada di Toronto.
Seorang pekerja hotel tiba-tiba menyapa kami dengan ramah dan kami sempat berbincang.
Tiba-tiba dia mengatakan hal tentang Alia yang masih saya ingat sampai sekarang,
"She will always be the baby in the family."

Hingga saat umur Alia 18 tahun ini, kalimat itu masih terngiang-ngiang ditelinga.
Sampai kapanpun Alia akan menjadi anak kesayangan di dalam keluarga.
Tidak peduli umur Alia 12, 18, atau bahkan 26 tahun, Alia pasti masih menjadi si bungsu yang harus selalu disayang dan dilindungi.
Tidak peduli bila dandanannya paling trendy masa kini, tidak peduli bila teman-temannya sudah terlihat seperti bapak-bapak dan tante-tante, Alia masih akan terus menjadi anak kecil dimata saya, mama, dan papa.

Semoga Alia bisa menerima kenyataan bahwa saya, mama, dan papa sangat menyayangi Alia.
Bahwa semua persepsi kami tentang Si Kecil Alia itu semata-mata karena kami sungguh sayang pada Alia.
Bahwa semua cinta kasih kami ditujukan agar Alia dapat terlindungi dari segala macam kekerasan yang ada di dunia ini.
Bahwa kami selalu ingin Alia bahagia, sukses, dan bisa menjadi anak dan adik yang baik dan bermanfaat.

Sungguh, saya sangat sayang adik saya, Alia.

Dua Hal

(okay. ini adalah tulisan yang aku buat hampir setahun yang lalu, sekitar bulan Oktober 2009. waktu itu punya ide untuk mengirimkan tulisan ini ke suatu tempat yang membutuhkan. tapi seperti biasa, aku gak punya keberanian dan tulisan ini gak bagus-bagus amat, menurut aku. Sekarang, mumpung momennya tepat, sayang juga kalau tulisan ini terbuang begitu saja. Makanya aku posting saja disini. Semoga bermanfaat!)

Tradisi Mahasiswa

Aliendheasja Fawilia - 15306009

Saya tidak bisa melupakan betapa bangganya keluarga saya ketika mengetahui saya diterima di ITB. Diantara orang yang paling bangga terhadap prestasi saya yang satu itu, ayah saya adalah orang yang paling bangga. Sejak saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas, ayah sudah berulang-ulang kali menceritakan berbagai macam hal yang berkaitan dengan ITB. Ada dua hal yang tidak pernah bosan diceritakan oleh ayah, ospek dan arak-arakan saat wisuda.

Ayah saya memang sangat berjiwa ITB. Beliau adalah mahasiswa ITB tahun 1970-an yang sangat idealis namun realistis. Era 1970-an adalah era yang sangat sulit untuk kegiatan kemahasiswaan. Walaupun setiap mahasiswa baru harus mengikuti minimal dua unit kegiatan, satu unit kegiatan olahraga dan yang satu lagi terserah minat dan bakat, namun langkah gerak mahasiswa pada zaman itu sangat terbatas. Terutama setelah ada peristiwa ada ABRI masuk kampus tahun 1978.

Sebagai mahasiswa yang mendapat gelar mahasiswa abadi, ayah saya membutuhkan waktu delapan tahun hingga akhirnya mendapat gelar insinyur, sangat menjunjung tinggi pentingnya kegiatan kemahasiswaan. Ayah saya hampir tidak pernah menceritakan tentang perjuangan beliau belajar untuk lulus suatu mata kuliah. Saya bahkan baru mengetahui perusahaan tempat ayah saya melaksanakan kerja praktek, beberapa waktu sebelum saya sendiri harus melaksanakan kerja praktek. Buat ayah saya, dua hal yang paling berkesan selama menjadi mahasiswa ITB adalah saat ospek dan arak-arakan wisuda.

Saya masih ingat detil cerita saat ayah menjalani ospek. Ayah saya dipaksa untuk memakai topi berbentuk aneh dan para mahasiswi teman ayah saya rambutnya harus dikepang. Semua mahasiswa baru tidak boleh ada yang naik kendaraan pribadi. Kakak kelas sudah menunggu di setiap belokan di sekitar ITB untuk berjaga-jaga. Uniknya, setiap hari pasti saja mahasiswa baru asal Jakarta yang nekat terlihat dengan menggunakan kendaraan pribadi, mobil sendiri lagi. Mahasiswa seperi itu langsung habis dimarahi. Ayah juga bercerita tentang bagaimana beliau dan teman seangkatannya diteriaki, ditendang, dipukul, dan disuruh merayap di tanah. Yang unik, ayah masih ingat bahwa dia pernah diberikan tugas untuk membawa sekotak korek api merk cap tiga durian. Beliau keliling-keliling Dago semalaman, mencari korek api dengan merk yang sama. Sampai akhirnya ayah menyerah dan membuat sendiri merk cap tiga durian dengan logo merk buatannya sendiri.

Saya selalu bilang pada ayah, saya merasa ragu masuk ITB. Saya tidak yakin bahwa saya dapat menghadapi semua tekanan dalam ospek tersebut. Ayah saya bilang agar saya jangan takut. Ospek itu hanya sebentar. Ospek akan berakhir sebelum saya sadar bahwa saya sedang mengalaminya, begitu katanya. Ayah tidak pernah bosan menceritakan detik-detik berakhirnya ospek. Beliau dan teman-temannya berdiri mengelilingi api unggun dan membakar semua atribut ospek mereka. Setelah itu, mereka semua menangis bersama, terharu karena ospek telah usai. Ospek adalah salah satu kenangan manis yang dilalui oleh ayah selama beliau menjadi mahasiswa. Saat menjalaninya memang berat, namun setelahnya, beliau mengaku punya banyak sekali kenangan.

Hal lain yang meninggalkan kenangan manis pada beliau adalah kenangan saat arak-arakan wisudaan. Hingga sekarang, jika ayah mengantarkan saya kedalam kampus dan melewati kolam di depan program studi Teknik Mesin, ayah akan sibuk menceritakan pengalamannya saat arak-arakan wisuda. Tidak peduli sudah beribu kali mendengar cerita yang sama, ayah masih tetap akan mengulang cerita itu hingga sekarang. Ayah tidak pernah bosan menceritakan tentang betapa meriah hari wisudaannya. Beliau cerita bahwa beliau diangkat oleh masa himpunannya sambil dielu-elukan. Sampai akhirnya mereka sampai di depan program studi Teknik Mesin, di depan Kolam Mesin. Tanpa belas kasihan, mereka pun dijatuhkan ke dalam Kolam Mesin tersebut. Ayah yang bukan berasal dari jurusan Teknik Mesin merasa puas sekali bisa diceburkan ke dalam Kolam Mesin.

Jika dibandingkan antara cerita-cerita ayah dengan kenyataan yang saya hadapi sekarang saat berkegiatan kemahasiswaan, saya jadi kecewa sendiri. Sejak sekitar tahun 2005, ospek sudah diharamkan di lahan ITB. Berbagai jenis ospek dihalang-halangi dengan berbagai cara oleh pihak rektorat. Mulai dari ospek terpusat yang biasa disebut dengan OSKM, hingga ospek di masing-masing himpunan mahasiswa. Kemudian mulai tahun 2009 ini, arak-arakan saat wisuda pun dilarang. Arak-arakan dilarang dalam bentuk apapun, mulai dari penjemputan wisudawan di Sabuga, hingga tidak adanya arak-arak keliling kampus.

Pelarangan ini terjadi tidak lepas karena mahasiswa banyak melakukan pelanggaran. Misalnya saja dalam segala kegiatan ospek, sudah dilarang berbagai macam kegiatan kekerasan, namun masih saja ada yang diam-diam melakukannya. Masih saja ada senior yang melaksanakan kegiatan ospek semata-mata demi merayakan euforia memiliki adik kelas sehingga tidak memperhatikan arti dari setiap tindakannya. Pihak rektorat juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Mereka juga bukannya belum pernah memberikan peringatan-peringatan kepada mahasiswa penyelenggara ospek. Sudah banyak sekali teguran yang mereka berikan, mulai dari ancaman skorsing hingga pembekuan himpunan, tapi teguran-teguran tersebut hanya dianggap angin lalu oleh mahasiswa. Setiap selesai mendapatkan teguran, mahasiswa kembali lagi melakukan kesalahan yang sama hingga akhirnya rektorat memutuskan bahwa mahasiwa memang harus diberikan larangan sepenuhnya.

Contoh pelanggaran lainnya adalah mengenai larangan arak-arakan wisuda. Akar permasalahan dari arak-arakan wisuda ini sebenarnya terdapat di arak-arakan wisuda puluhan tahun yang lalu, sejak ayah saya baru menginjakkan kaki di ITB. Di zaman ayah saya dulu, memang ada skenario perkelahian antar himpunan yang sengaja dibuat. Perkelahian ini dibuat karena keidealisan mahasiswa yang menganggap bahwa mahasiswa ITB harus kuat menghadapi siapa pun dan harus mau melawan siapapun yang salah, termasuk rekan satu almamater. Lama-kelamaan, perkelahian mahasiswa ini pun kehilangan maksud utamanya. Perkelahian antar himpunan yang kemudian terjadi saat arak-arakan hanya menjadi ajang pamer kekuatan masing-masing himpunan. Tradisi pertunjukan ego antar himpunan ini pun berlanjut hingga setahun yang lalu, sampai beberapa himpunan akhirnya terlibat dalam suatu perkelahian yang sangat tidak berarti, bahkan sekarang massa himpunan yang terlibat dalam perkelahian itu pun tidak ingat apa penyebab perkelahian tersebut. Sejak perkelahian yang terjadi saat arak-arakan wisuda Maret 2009, arak-arakan saat wisuda pun dilarang untuk dilaksanakan.

Saya sangat sedih melihat banyaknya larangan dalam melaksanakan tradisi-tradisi kemahasiswaan ITB. Semakin sedih karena ayah saya justru tidak pernah menceritakan bagaimana dia berjuang untuk lulus ujian, ayah saya selalu mengetengahkan pembicaraan tentang pentingnya bergabung dalam kegiatan kemahasiswaan dalam berbagai bentuk. Saya yakin bapak-bapak di rektorat yang juga alumni ITB masih peduli dengan berbagai macam tradisi kemahasiswaan yang sifatnya baik dan hanya dimiliki oleh ITB. Suatu kebanggaan untuk bersekolah di sebuah institut terbaik bangsa yang memiliki banyak sekali ciri khas dibandingkan dengan perguruan tinggi lain. Namun untuk mempertahankan tradisi tersebut, harus ada kerjasama dari dua belah pihak, rektorat dan mahasiswa. Pada intinya, rektorat pasti akan mendukung setiap kegiatan yang tujuannya baik dan mahasiswa pun pasti akan lebih senang jika setiap kegiatan pelaksanaan tradisi kemahasiswaan berlangsung dengan baik.