Pages

Monday, June 21, 2010

Minggu Pagi di Victoria Park

Semuanya bermula dari seorang teman yang nulis di twitter kalau film Minggu Pagi di Victoria Park itu lumayan bagus, sayangnya udah hampir hilang di bioskop.
Jadilah kemarin, setelah mengerjakan revisi dengan malas-malasan, aku dan Dede memutuskan untuk menonton film ini.

Tanpa menonton trailer filmnya, tanpa tau cerita film ini tentang apa, tanpa mengingat Victoria Park itu dimana, aku langsung aja masuk bioskop.
Aku masuk ke dalam bioskop itu agak terlambat, prolognya sudah mulai.
Pahlawan Devisa sudah mulai disebut-sebut.
Setelah itu film mulai.
Baru deh semuanya muncul dipikiranku.

Cerita di film ini adalah tentang Tenaga Kerja Wanita Indonesia di Hong Kong.
Aku jadi teringat saat-saat liburan akhir tahun ke Hong Kong beberapa tahun yang lalu.
Aku, mama, papa, dan Alia menginap di sebuah hotel yang terletak tidak terlalu jauh dari Victoria Park dan di taman itu ada pohon natal yang besar dan indah.
Kami berempat jalan-jalan ke taman itu dan sibuk berfoto bersama si pohon natal sementara disekeliling kami banyak Tenaga Kerja Wanita yang berkumpul menghangatkan tubuh bersama.
Waktu itu, tidak banyak orang Indonesia. Filipino kebanyakan.

Dari koran dan berita di TV, udah banyak banget cerita tentang Tenaga Kerja Wanita Indonesia di luar negeri.
Ada yang dipukulin, ada yang majikannya baik, ada yang berhasil bikin keluarganya di kampung sukses, ada juga yang saking susahnya hidup di luar negeri malah jadi pekerja seks.
Yang baru aku tau soal TKW Indonesia di luar negeri, ternyata ada yang jadi lesbian.
Lesbian ini bener-bener sesuatu yang baru buat aku.

Selain itu, aku baru tau loh, kalo perempuan-perempuan calon TKW yang disalurkan melalui agen resmi itu bener-bener dilatih berbagai macam kemampuan yang akan mereka butuhkan di rantau nanti.
Contohnya aja, mereka diajarkan memasak, bahasa sehari-hari disana, sampai cara membersihkan toilet.
Sebegitu serius-nya ya industri tenaga kerja wanita Indonesia di luar negeri?
Aku bener-bener baru tau.

Yang paling mengesalkan sih adanya cowok-cowok matrerialistis yang mendekati TKW-TKW polos ini.
Ditambah lagi dengan lintah darat modern yang morotin TKW-TKW yang sebenarnya gak punya uang ini.
Intinya, TKW itu sebenarnya gak punya uang dan tetap aja polos. Jahat banget deh orang-orang yang memanfaatkan kepolosan itu untuk mendapatkan uang dari mereka.

Intinya, film ini bagus deh.
Sayangnya terlalu cepat berakhir di bioskop deh.
Titi Sjuman cantik, aktingnya bagus.
Lola Amaria kaku banget. Antara karakter dia yang emang orangnya kaku, atau dia emang bener-bener maksa punya logat Jawa.
Donny Damara biasa aja. Donny Alamsyah juga.
Pemain lainnya keren-keren. Sangat maksimal dalam akting, gerak-gerik, dan gaya berbusana.
Beneran deh, leopard legging, skin-tight shirts, nasty leather-but-synthetic jacket, ada semua disini!
yang lucu tapi geli juga adalah adegan suka-suka-an antara Mayang dan Vincent. bukannya terasa romantis, malah bikin ketawa.
dan yang paling seru dari film ini adalah soundtrack-nya yang OKE BANGET!
kecuali lagu-nya Kangen Band lah ya...

So, silakan langsung mengarak ke website Minggu Pagi di Victoria Park buat mendapatkan sedikit dari keseruan yang aku dapatkan kemarin!

1 comments:

.dyah. said...

bagus yaaa filmnya..
aku juga nontonnya di jatos dong saking di bandung cuma tinggal satu jam tayang yang nggak aku bisa datengin. dan pula di nusantara. *siapa coba yang mau nonton di nusantara? hahahaha


udah baca review aku belom?
kalo kata aku, si lola amaria emang kaku banget. tapi ya, kalo orang jawa yang baru ke dunia luar dan memaksakan bahasa indonesia, ya begitu itu jadinya. emang koyok ngono ikulah.. hahaha