Pages

Tuesday, June 30, 2009

Film Indonesia

Okay.
Terhitung sejak tanggal 10 Juni 2009 hingga hari ini, tanggal 30 Juni 2009, sudah tiga akhir minggu aku lewatkan di Kota Balikpapan ini.
Akibat kurangnya sarana hiburan di kota kecil ini, aku dan teman-teman senasib (anak-anak ITB yang sama-sama KP di Balikpapan, maksudnya), bolak-balik ke bioskop.
Akibatnya lagi, dua akhir minggu di awal kedatanganku, aku jadi menonton film Indonesia.

Film Indonesia pertama yang aku tonton adalah Ketika Cinta Bertasbih.
Jujur saja, film ini benar-benar membuat aku penasaran, alasannya:
1. Film sejenis sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta, benar-benar mendulang sukses. Walaupun menurut aku sebenarnya film-nya biasa saja, tapi entah mengapa film itu mendapat tempat yang layak dihati rakyat Indonesia.
2. Aku sudah membaca novel Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2. Jadi aku ingin tau saja bagaimana cerita di novel tersebut divisualisasikan.
3. Promosi film ini benar-benar besar-besaran. Jadi film pertama yang pengambilan gambarnya dilakukan di Mesir lah. Sistem audisi yang keliling Indonesia lah. Hingga promosi sesungguhnya yang benar-benar niat: "buy one get one free ticket with XXX credit cards", diputar secara serentak di seluruh Indonesia, dan lain-lain.
4. Mama dan Alia sudah menonton film ini terlebih dahulu dan mama bilang kalau film ini "lumayan". Sayangnya, aku tidak mem[erjelas apa arti kata "lumayan" yang dimaksud mama.

Jadilah aku dan teman-teman menonton film ini.
Dari awal menonton, Lala (salah satu temanku) bilang, "kok intro-nya panjang banget ya?"
Mau tidak mau, aku harus mengakuinya.
Saat film berjalan, kekecewaanku dimulai ketika adegan yang pengambilan gambarnya dilakukan di Mesir tersebut diputar. Latar belakang cerita dalam adegan tersebut menuntut akah suasana malam hari dengan langit yang bertaburan bintang. Dalam film, visualisasi yang didapat adalah adegan murahan dengan latar belakang langit malam palsu dengan bintang berupa tempelan.
Benar-benar mengecewakan.
Film kemudian berlanjut dan aku tak dapat berhenti kaget.
Akting para pemain film hasil audisi tersebut benar-benar jelek. Benar-benar terlihat bahwa aktor dan aktris tersebut adalah pemain baru yang belum dapat berakting secara profesional. Aktingnya terlalu dibuat-buat. Berlebihan. Mengesalkan.
Dan akhir film ditutup dengan kata "bersambung" yang membuat aku dan teman-teman ingin melempari layar bioskop dengan alas kaki kami.
Film macam apa yang menuliskan kata "bersambung" diakhir tayangannya?
Kami benar-benar tidak habis pikir dan kecewa berat.
Film Indonesia pertama yang aku tonton: NOL BESAR!

Akhir minggu berikutnya, aku dan teman-teman tidak patah semangat dan masih berusaha mencari hiburan dengan cara menonton film Indonesia.
Film yang kami tonton berikutnya berjudul Garuda Didadaku.
Jujur saja, setelah menonton Ketika Cinta Bertasbih, kami tidak menaruh harapan apa-apa terhadap film Indonesia berikut ini.
Setelah menonton film ini, anehnya, kami merasa sangat puas.

Ceritanya sederhana sekali, tentang seorang anak yang ingin bermain sepakbola tapi dilarang oleh kakeknya.
Berbagai usaha dilakukan si anak untuk bermain sepak bola dan berbagai konflik harus dihadapinya.
Sangat sederhana, tapi juga sangat dekat dengan kehidupan nyata.
Film ini benar-benar membuatku teringat pada salah seorang guru Bahasa Indonesia-ku saat di kelas dua SMA dulu.
Beliau bilang jika kita ingin membuat satu karangan, perhatikan hal-hal yang disekitar kita dulu, jangan memikirkan tentang sesuatu hal yang terlalu jauh.

Film ini, walaupun inti ceritanya bukan merupakan suatu terobosan baru, sinematografinya juga tidak ditampilkan dengan berbagai efek yang mengagumkan, tapi benar-benar bagus karena kesederhanaannya.
Ada unsur komedi, drama, edukasi, dan hiburan yang dicampur jadi satu. Ditambah lagi dengan rasa nasionalisme yang dicoba untuk disuntikkan kepada para penonton oleh para pembuat film ini.
Aktor dan aktrisnya bahkan jauh lebih terlihat profesional dibandingkan dengan aktor dan aktris di film Ketika Cinta Bertasbih.
Intinya, aku senang karena telah meluangkan waktu dan uang untuk menonton film Garuda Didadaku.

Begitulah tentang dua film Indonesia yang aku tonton.
Maju terus perfilman Indonesia!

N.B. Aku jadi tidak sabar untuk menonton film King!

Friday, June 26, 2009

Mom and Michael Jackson

My mom and Michael Jackson is like good and bad news.

Today is my mom's birthday.
Good news, of course.
My mom is in London, together with my dad.
So it's like their many times honeymoon all over again.
Plus it's a great birthday present for her.
Again, good news, of course.

Here is the bad news:
When I sent her a birthday message to her, she said, "I have a bad news".
So she told her to go see CNN.
And she finally told me that Michael Jackson died of heart attack.
Bad news, indeed.
For more information, go to cnn.com.

So there you go.
A good and bad news in the morning.
Happy birthday mom and my deepest consolation for the Jacksons.

Friday, June 12, 2009

is it HOT in here or is it just me?

Jadi seperti yang sudah banyak aku sebutkan di Facebook-ku dan Facebook beberapa teman, aku sekarang udah ada di Balikpapan demi menyelesaikan tugas mulia Kerja Praktek.

Bagi yang belum tau, aku flashback sedikit.
Sebenernya aku gak mau sama sekali KP ke Balikpapan.
Jauh, belum pernah lagi, gak ada kenalan, males deh pokoknya.
Kekhawatiran terbesar aku kemarin sih adalah 8EH. agak gak tega juga ninggalin 8EH yang tercinta. Takut ada yang kudeta aku tiba-tiba gitu. ahahahahhahah!

Tapi karena aku lebih mencintai papa daripada 8EH (DUH!).
Juga karena aku mau jadi a grateful daughter and student (banyak yang pengen KP kesini tapi ditolak atau ngurusinnya susah.)
jadilah tantangan papa (his exact words were, "Yah... kalau mau cari tantangan yah ke Balikpapan aja. Belum pernah toh?") aku terima.

Aku baru 2 hari di Balikpapan.
tapi kayaknya aku udah hapal kota-nya kayak gimana.
aku udah tau naik angkot apa kalau mau kemana.
gimana nanti kalau aku dua bulan disini???
bisa-bisa aku hapal setiap jengkal Balikpapan. hehehehe

Seperti biasa, aku mau buat daftar beberapa hal penting di Balikpapan. hehehehhe

1. PANAS
sesuai dengan judul tulisan ini, Balikpapan tuh PANAS BANGET!
lebih panas daripada Jakarta. terik banget bo mataharinya. kalo Jakarta kan panas karena banyak polusi aja tuh. kayaknya kalau gak ada polusi, Jakarta gak panas-panas banget deh...
lebih panas dari Canadian prairie summer.
Lebih panas dari beberapa daerah di Sulawesi.
lebih panas daripada Jogja dan Medan.
Sumpah! PANAS BANGET!

2. Kompleks Pertamina
Kompleks ini sangat mengingatkan aku dengan Kompleks Antam di Pomalaa.
Jadi inget masa-masa kecil dulu...
ngeliat rumah-rumah dinas pertamina yang halamannya luas banget, aku jadi inget main guling-gulingan di bukit-bukit kecil gitu didepan rumah.
kayaknya dulu waktu kecil gak mikirin apa-apa gitu.
Inget juga waktu aku sering dibawa papa ke pabrik. Ngeliatin slag dan proses peleburan segala macem. seru deh.
aku juga pengen deh nanti membesarkan anak di perkompleksan gitu. Bisa bertetangga dan si anak juga punya banyak lahan buat loncat dan lari-larian.

3. Pantainya kotor!
kata orang yang nganter-jemput aku, sejak dia kecil pantai di Balikpapan emang selalu tercemar. Resiko laut yang dipakai buat pengeboran minyak katanya.
sedih banget deh.
padahal tuh pantainya mirip kayak Pantai Losari dan pantai di Manila. yang beneran di sebelah jalan tuh langsung pantai. Sayangnya gak dirawat...

4. Kost dan Angkot
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ngekost dan menggunakan angkot sebagai alat transportasi utama.
Well, waktu aku di Kanada sih emang mirip sama ngekost, tapi tetep aja itu mah ada hostmom aku yang bertindak layaknya keluarga.
sekarang sih beneran ngekost aku-nya.
Trus, kalo ke luar negeri juga aku selalu naik public transportation gitu, kayak bus atau metro/subway. tapi ini angkot beneran. seru juga sih. tapi mahal bo.
masa sekali naik angkot paling murah Rp 2500? padahal jaraknya deket. bangkrut juga...

5. Warnet
dikost-an aku tuh gak ada internet.
thanks to my insensitive parents, aku masih pake crappy cellphones di Balikpapan ini yang gak bisa internetan.
jadinya aku harus ke warnet mulu deh...
aku akan berusaha biar gak ke warnet sering-sering ah...
bangkrut juga nih...

alright,
cerita di Balikpapan segini dulu aja deh.
nanti-nanti disambung lagi...
sayangnya agak males juga upload foto karena berbagai macam alasan.
nanti-nanti deh...
in the mean time, doakan aku yaaaaaaa!!!

Sunday, June 07, 2009

5 Juni 2009 di Aula Barat ITB

akhirnya salah satu cita-cita aku selama berkuliah di ITB terkabul sudah.

Seperti cita-citaku yang lainnya, cita-cita yang akan aku bahas sekarang ini dimulai lewat sebuah kalimat motivasi dari seseorang.
Sayangnya aku lupa-lupa ingat kaliamt siapa waktu itu.
Kayaknya kalimatnya Rhenald Kasali waktu ngomong di acara ini deh...
Kalimatnya tuh kira-kira kayak gini,
"Ruangan ini namanya Aula Barat kan? Beberapa tahun yang lalu saya juga pernah diundang untuk datang dan berbicara di dalam gedung ini. Gedungnya masih sama persis seperti beberapa tahun lalu. Gedung ini sangat bersejarah dan saya percaya, 10 tahun lagi saya datang ke ITB untuk berbicara di dalam gedung ini, gedung ini tidak akan banyak berubah. Suatu kehormatan besar bagi saya bisa berbicara di dalam gedung ini."

Jadi, semenjak mendengar kalimat itu, di dalam hati aku bertekad diam-diam buat bisa ngomong di depan banyak orang di dalam Aula Barat ITB.

Trus, tiba-tiba ada kesempatan buat ngomong di pelataran Plaza Widya.
Tempat yang bersejarah juga di ITB. Ngomongnya di depan massa kampus lagi.
Bikin aku seneng dan bangga juga.
Tapi itu bukan Aula Barat.

Sampai akhirnya, tanggal 5 Juni 2009, cita-cita aku terwujudkan.

Aku berhasil ngomong di salah satu gedung paling bersejarah di ITB.
Ngomongnya bukan di depan sembarangan orang lagi.
Aku ngomong di depan orang-orang yang bener-bener niat buat datang, tanpa paksaan, bayar lagi.
Ngomongnya juga bukan soal sembarangan. Soal sejarah.
Ngomongnya juga bukan di acara sembarangan. Di acara ulang tahun sebuah komunitas radio FM yang paling bersejarah di seluruh Indonesia pula.
Pakaian aku gak biasa pula. pakai dress dengan warna-warna 8EH.
Setelah selesai ngomong, aku di-tepuk-tangan-in pula.
Kurang bangga gimana coba?
Pas akhirnya aku turun dari panggung dan duduk di tempat duduk aku, aku langsung di-selamet-in.
Katanya omongan aku bagus dan paling bersemangat dan paling ngena.
Aku bangga banget bukan main.

Jadi, salah satu cita-cita aku di ITB terkabul sudah...
kalo aku udah mau lulus, aku mau bikin daftarnya ah...
"the extraordinary things I did when I'm in ITB"
dan "ngomong di Aula Barat" pasti masuk ke dalam daftar tersebut.

sementara itu, aku mau makasih BANYAK BANGET buat semua pihak yang udah membantu aku mewujudkan salah satu impian aku:
1. semua kru 8EH Radio ITB (Tirta, Aldi, Iwa, Ratih, Nico, Ravina, Sara, Fahmy, Aji, Helin, Cynthia, Meisa, Sasmaya, dan smua yang gak bisa aku sebutin namanya satu persatu, LOVE you LOTS, guys!)
2. semua pengisi acara Rockchoir Concerta (ISO, PSM, Apres!, The Panas Dalam)
3. papa (yang udah ngebantuin dari segi finansial lewat sponsor dan yang udah menginspirasi aku pas bikin 'pidato' aku di Aula Barat kemarin)
4. semua penonton Rockchoir Concerta (MAKASIH BANGET udah dateng dan bersedia turut merayakan ulang tahun 8EH Radio ITB bersama semua kru... semoga kita semua terhibur. maaf ya kalau banyak kekurangan dan acaranya cuma sebentar. Taun depan dateng lagi ya...)
5. semua orang yang udah bilang, "good luck acaranya ya...." (makasih loh udah di-doa-in)

Tanggal 5 Juni 2009, peristiwa aku ngomong di Aula Barat gak akan aku lupa seumur hidup aku!