Pages

Tuesday, April 29, 2008

DASAR

Dosenku bilang,
Tingkat tiga itu DASAR desain.

lha?
yang tingkat DUA ini DASAR apa??????

waktu kemarin tingkat SATU,
palajarannya DASAR-nya DASAR ya?????

nanti tingkat EMPAT,
masih DASAR juga???????????

pantesan aja kuliah itu membosankan....
palajarannya DASAR melulu....

DASAR ITB!!!

Monday, April 28, 2008

him

I know why you don't realize that I'm exist
I think you probably think I'm an extremist.

You caught me wearing shorts
when I should be covering my whole bod.
You caught me saying curse words
when I really should pick and choose the words I shout.

I know we really are different
but would you please look at me for a moment?

I'm not trying to be a bitch
I just want you to notice...

But thanks for the smile
and the chit-chat we had for a while
maybe someday we can get closer by a mile
and get away from all the lies...

Probably I should just stop trying
to get closer to you
or maybe stop talking
about everything that's related to you
or even just stop thinking
at all about you


p.s. maybe this is how I feel after 5 freaking years...

Sunday, April 27, 2008

self-pride

Have regard for your name, since it will remain for you longer than a great store of gold.
- Ecclesiasticus


oh YEAH!!!

Aliendheasja Fawilia Loebis.

the one and only name that I regard....

Happiness

HAPPINESS IS REAL WHEN SHARED


Christopher McCandless. Into the Wild (movie)


p.s. one of the saddest movie I've ever watched!

Wednesday, April 23, 2008

You are my DADDY Love

Aku udah telat 4 hari dari deadline yang aku buat sendiri.
Momen-nya udah kurang pas sama ulang tahun papaku yang jatuh pada tanggal 19 April kemarin, tapi kekagumanku terhadap papa kan everlasting, jadi nulis tentang papa kapan pun juga gak masalah kan?

Rencana bikin tulisan ini sebenernya terinspirasi dari kejadian sekitar tiga minggu yang lalu. Waktu itu aku lagi ada kesempatan buat pulang kota ke Jakarta. Waktu itu hari Sabtu pagi. Aku, mama, dan papa lagi duduk di meja makan, sarapan. Adekku, Alia, kebetulan belum bangun.
Sarapannya udah selesai, mama lagi membersihkan meja, aku lagi duduk aja, menunggu percakapan apa yang kira-kira akan terjadi diantara kami bertiga.
Papa lagi duduk dengan tenang sambil menyeruput teh tarik. Papa akhirnya memulai satu percakapan,
"Kalau pagi-pagi kayak gini, minum teh tarik, papa jadi inget waktu kecil dulu..."
Setelah itu, mengalirlah cerita-cerita tentang masa kecil papa yang terjadi di satu kampung nun jauh di daerah Sumatra Utara sana, namanya Padang Sidempuan.

Sejak aku kecil, papa adalah my one and only role model.
Papa dari dulu suka banget menceritakan kisah hidupnya ke aku dan Alia. Di ujung-ujung ceritanya itu, papa suka berpesan agar aku dan Alia jadi orang yang baik dan sukses. Papa aja yang dulunya susah sekarang bisa sukses, masa aku dan Alia yang sekarang hidupnya enak gak bisa sukses? Begitu kalimat andalan papa (dan mama) waktu itu.

Papa emang gak sukses tiba-tiba.
Papa dilahirkan di sebuah kota kecil bernama Padang Sidempuan. Mulai dari SD sampai SMA kelas 2, papa sekolah di kota kecil itu. Masa kecilnya diisi dengan menangkap belalang di sawah, membakarnya, dan memakannya. Ditambah lagi mengaji dan mengerjakan berbagai macam pekerjaan rumah yang memang dibagi-bagi sama 11 saudaranya yang lain.
Waktu SMA, papa pengen masuk ITB. Tapi keinginannya ini dihalangi oleh Ompung (kakek). Larangan Ompung ini cukup beralasan, soalnya dua tahun sebelumnya, Uwak Hilman, abangnya papa, yang selalu lebih pandai dalam semua kegiatan akademik mencoba tes masuk ITB dan gagal. Uwak Hilman sempat down banget dan Ompung gak pengen papa kecewa seperti itu. Tapi papa tetep keukeuh dan akhirnya Ompung menyerah.
Kelas 3 SMA, papa pindah sekolah ke Medan, demi mengejar cita-cita. Selesai SMA, papa langsung pindah ke Bandung dan bimbingan tes di Villa Merah. Papa berusaha keras deh pokoknya. Akhirnya, papa diterima di ITB.
Yang kerennya, papa gak bilang-bilang ke Ompung maupun Ompung Muarasoro (nenekku) kalau papa lulus tes. Mereka berdua tau papa lulus tes karena ITB ngirim surat ke mereka. Mereka kaget sekaligus seneng banget. Sejak saat itu, papa bisa dibilang jadi salah satu anak kesayangan kedua Ompung itu.
Yang kerennya, papa tuh dulunya cowok normal banget. Suka nongkrong-nongkrong gak jelas, ngerokok, mabok-mabokan, dan kebut-kebutan. Tapi toh seiring dengan berjalannya waktu, kedewasaan diri, dan rasa mulai memiliki tanggung jawab, papa bisa juga fokus kuliah dan lulus dari ITB.

Lulus dari ITB juga papa gak langsung ongkang-ongkang kaki, tapi gak bisa dibilang gak mulus juga jalannya. Papa langsung diterima di Caltex dan kerja disana beberapa waktu. Gak terlalu lama, papa ditawarin kerjaan di Antam dengan iming-iming dibayarin S2. Papa langsung menerima tawaran itu dan masih kerja di Antam sampai sekarang.
Di Antam juga papa gak langsung jadi direktur. Papa kerja cukup lama di Kantor Pusat, di Jakarta, sekitar lima tahun jadi 'kuli kertas'. Kemudian papa ditawari untuk pindah ke salah satu unit Antam yang ada di satu desa bernama Pomalaa. Waktu itu papa udah menikah dan umurku udah satu tahun. Papa dan mama gak pernah cerita bagaimana perasaan mereka saat diharuskan untuk pindah ke sebuah desa kecil di pelosok Sulawesi dari sebuah kota megapolitan Jakarta. Tapi aku percaya, itu pasti keputusan yang cukup berat. Apalagi jauh dari seluruh keluarga dekat.

Di desa Pomalaa itu, papa juga gak langsung jadi kepala unit. Papa awalnya jadi orang yang kerja di pabrik. Lama-lama jabatannya naik dan jadi kepala produksi sampai akhirnya jadi wakil kepala unit. Naik jabatannya papa jangan disangka didapat dengan kerja semalam. Waktu yang dibutuhkan papa untuk naik jabatan itu adalah selama aku SD, yaitu sekitar 5-6 tahun. Setelah itu papa dipindahtugaskan lagi ke Jakarta buat disekolahkan S2 Manajemen di Prasetya Mulya. Bisa kuliah gratis sih asik, tapi jabatan papa saat balik ke Kantor Pusat turun drastis. Aku yang waktu itu udah SMP merasakan hal itu. Papa harus kerja dua kali lebih keras. Ditambah lagi kuliah dan belajar lebih semangat, padahal papa mengaku kalau syaraf otaknya sudah mulai susah mengingat pelajaran.

Setelah dapat gelar S2, papa di kantor lebih diperhitungkan. Sampai akhirnya papa mendapatkan kembali jabatan yang pernah ditinggalkannya, bahkan jauh lebih baik. Papa diangkat jadi ketua unit di desa Pomalaa itu. Saat aku bilang desa Pomalaa, jangan meremehkan. Desa itu adalah sumber pemasukan perusahaan yang terbesar dari hasil nikel-nya. Jam tangan kamu, sendok-garpu kamu, dan berbagai macam peralatan sederhana yang kamu gunakan, mungkin itu papa yang mengolah sebagian kecil bahan bakunya.
Baru beberapa bulan papa menjabat jadi ketua unit, papa sudah lulus fit and proper test buat jadi direktur. Akhirnya setelah RUPS yang super panjang dan lama (ada rekaman video-nya loh, waktu itu aku, mama, dan Alia sibuk nontonin rekamannya berjam-jam hanya untuk mendengar nama papa disebutkan), papa jadi direktur juga.

Jangan kira kerjaan jadi direktur itu gampang. Setelah jadi direktur, jam kerja papa dua kali lipat jam kerja karyawan lainnya. Papa berangkat dari rumah jam 8, sampai dikantor setengah jam kemudian. Biasanya papa selesai bekerja sekitar jam 8 malam. Saat itu, sekertarisnya saja sudah sering pulang duluan. Kalau ada rapat bersama jajaran direksi atau komisaris atau bahkan menteri, papa bisa pulang jam 4 pagi. Belum lagi papa yang harus tetap beramah-tamah dengan semua elemen karyawan dan semua elemen konsumen hasil tambang. Papa pernah loh keliling Amerika Serikat, beberapa negara Eropa, dan Timur Tengah dalam waktu seminggu dan harus dalam waktu seminggu karena papa harus segera kembali ke kantor dan rapat.
Aku pernah ikut papa saat papa dinas. Waktu itu segala sesuatunya dilaksanakan dengan terburu-buru dan gak nikmat. Semalam di Singapura, semalam di Hong Kong, dan empat hari di Kuala Lumpur. Pulang dari perjalanan itu, aku dan papa jatuh sakit, kecapekan.
Belum lagi jadwal main golf yang harus dipatuhi. Hampir setiap weekend papa punya undangan main golf. Main dengan Pertamina, dengan PT Inco, dengan Menteri, dengan BUMN lain, dan lain-lain. Plus segala macam undangan dinner bersama client atau pun sekedar karaokean sama karyawan lain. Itu semua bagian dari kerjaan seorang direktur.
Aku, mama, dan Alia sering protes karena papa biasanya terlalu workaholic. Jawaban papa cuma, "Loh? ya gini lah kerjaan direktur! gajinya nambah, kerjaan juga nambah!"

Yang kerennya dari papa adalah, di rumah, papa adalah seorang ayah biasa. Papa masih pengen tau tentang segala hal yang sedang terjadi sama aku dan Alia. Papa masih mau menjemput Alia kalau Alia habis malam mingguan sama segerombolan ABG lain, teman-temannya. Papa masih mau menjemput Alia dari latihan band. Papa masih tau semua pr-pr Alia dan kapan pr-pr itu due. Papa bahkan masih menyempatkan diri untuk dateng ke PTA di sekolah Alia.
Papa juga gak pernah malu karena Bahasa Inggrisnya lebih jelek daripada Bahasa Inggrisku. Papa masih mau ngangkatin koper buatku. Papa masih mau nyetir sendiri tanpa supir dan membiarkan supirnya aku pakai. Papa juga masih mau ikut aku, mama, dan Alia belanja baju dan duduk di dekat fitting room sementara aku, mama, dan Alia gantian keluar-masuk fitting room itu dan memperlihatkan baju yang kami coba. Papa memperbolehkan aku liburan sendirian, dengan dibiayai oleh papa dan tanpa tau aku sebenernya ngapain aja. Papa masih pengen tau apakah Alia bakal ketemu cowok brengsek yang waktu itu ngedeketin Alia atau enggak. Papa juga dengan sabar ikut sama mama kalau mama udah tiba-tiba mendaftarkan kami sekeluarga ke berbagai macam pelatihan emosional dan bersifat agamis.
Papa sangat perhatian sama keluarga.

Pokoknya, I could never imagine having another guy to be my dad.
Papa is the best dad I could ever ask for.
Ada rasa senang sekaligus khawatir setiap papa ulang tahun berarti papa tambah tua. Tambah tua, berarti tubuh papa tambah renta. Tambah renta, berarti tambah gampang terkena penyakit.
Semoga papa tetap sehat selama Allah masih me-ridho-i papa untuk sehat.

Selamat ulang tahun, Papa!
thanks for being the best dad ever!
thanks for everything!

I love you 'til the end!

Tuesday, April 22, 2008

HELP!!!!!

Friday, April 18, 2008

Heaven

...

But when Mother died she didn't go to heaven because heaven doesn't exist.

Mrs Peters' husband is a vicar called the Reverend Peters, and he comes to our school sometimes to talk to us, and I asked him where heaven was and he said, 'It's not in our universe. It's another kind of place altogether.'

...

I said there wasn't anything outside the universe and there wasn't another kind of place altogether. Except that there might be if you went through a black hole, but a black hole is what is called Singularity, which means it is impossible to find out what is on the other side because the gravity of a black hole is so big that even electromagnetic waves like light can't get out of it, an electromagnetic waves are how we get information about things which are far away. And if heaven was on the other side of a black hole dead people would have to be fired into space on rockets to get there, and they aren't, or people would notice.

I think people believe in heaven because they don't like the idea of dying, because they want to carry on living and they don't like the idea of other people will move into their house and put their things into the rubbish.

The Reverend Peters said, 'Well, when I say heaven is outside the universe it's really just a manner of speaking. I suppose what it really means it that they are with God.'

And I replied, 'But where is God?'

And the Reverend Peters said that we should talk about this on another day when he had more time.

...

Christopher Boone in The Curious Incident of the Dog in the Night-Time by Mark Haddon

Thursday, April 10, 2008

Mang-Mang

Sumpah ya, aku shock berat.

Kan gini,
hari ini (Kamis, 10 April 2008), anak-anak TL 2006 (seangkatan umumnya, anak kelas ganjil terutama) janjian pake baju rapi.
Pertamanya sih dimulai dari cewek-cewek yang janjian pake rok bareng-bareng.
Trus akhirnya cowok-cowok juga janjian deh pake kemeja.

Secara ya, walaupun jurusan cewek, cewek-cewek TL hampir gak ada yang pernah pakai rok ke kampus.
Kalau ada, palingan yang berjilbab dan pakai rok panjang, atau yang emang dandanannya cewek abis dan hobi pakai rok (which, none in TL 2006).
Kalo cowok-cowok sih gak usah dibahas deh. Ke kampus udah mandi aja jarang, apalagi dandan yang rapi. Kebanyakan sih pada pake kaos oblong dan celana jeans doang.

Jadi, hari ini kami melaksanakan janjian kami lah ya.
Yang cewek-cewek pake rok dan yang cowok-cowok pake kemeja.
Yang cowok-cowok sih gak masalah. Palingan ada beberapa cowok yang dandanannya rapi banget sampe dikira orang dengan various jobs. Mulai dari salesman sampe mo ngelamar kerjaan (Rady, I think you looked okay, though, Man!).
Kejadian ama cewek-cewek ini yang bikin aku shock berat.

Dari pagi hari, kami kuliah jam 7 di gedung kuliah umum yang bernama Oktagon.
Mulai dari situ, karena kami (cewek-cewek) jalan bergerombol, kami udah dikomentarin banyak orang.
Mulai dari yang, "Cie... pake rok..."
sampai yang, "Ada apa nih pakai rok?"

Yang bikin aku kaget adalah kelakuan berbagai macam cowok-cowok ITB yang kayaknya haus banget sama belaian wanita.
Aku lagi jalan sendiri dari TL mau ke Sunken Court.
Di tengah perjalanan, aku menyapa seorang teman cowok. Biasa banget, cuma manggil namanya dan melambai.
Tau gak apa yang dia lakukan?
Dia menyapa aku balik, melihat mataku, trus melihat kebawah, ke arah rokku. Habis itu dia balik lagi ngeliat mukaku seolah-olah dia gak baru aja merhatiin penampilan aku.
Aku kaget.

Trus di siang hari, aku dan teman-teman TL pindah tempat kuliah ke GKU Barat.
Setelah selesai kuliah, kami langsung sibuk foto-foto.
Banyak banget orang yang ngeliatin.
Emang kenapa sih? pada gak biasa ya liat satu jurusan dan satu angkatan pada pake dress code? Makanya, kompakin dong angkatannya dan janjian bikin dress code sendiri sana! biar gak usah ngeliatin jurusan/angkatan orang lain terlihat kompak dengan dress code yang rapi!

Habis dari GKU Barat, kami pindah ke GKU Timur.
Selama perjalanan, aku dan teman-temanku (cewek-cewek) heboh ngomongin gimana kami daritadi jadi pusat perhatian cuma gara-gara kami pakai rok.
Pas nyampe GKU Timur, banyak gerombolan cowok yang sedang berkumpul.
Pas kami lewat, langsung deh pada ngeliatin dari atas sampai bawah, sampai kami semua ngilang.
Yang anehnya lagi pas kami naik tangga.
Ada gerombolan cowok yang terang-terangan ngomong di depan kami, "Eh, eh, eh, anak TL, anak TL!"
Trus gerombolan cowok-cowok itu langsung deh ngeliatin kami.
Males banget siiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhh???????????!!!!!!!!!!!

Yang paling bikin kaget tuh, our fellow FTSL friends, cowok-cowok Sipil.
Sesudah kuliah dari GKU Timur, kami bergerombol lagi pindah kuliah ke Sipil.
Sampai di Sipil, setiap ada gerombolan cowok (dan cewek) mereka langsung memperhatikan kami dari atas sampai bawah.
Setelah kuliah selesai dan kami bergerombol di depan kelas, rebutan buat keluar, cowok-cowok Sipil selain ngeliatin kami-kami yang pakai rok, ada juga yang ngegodain beberapa temen aku.
Ada seorang temen, cowok Sipil, yang bahkan ngegodain temen cewek aku dengan bilang,
"Gue angkat loh roknya..."
Kayaknya itu udah keterlaluan deh...

Seriusan deh.
Di ITB cewek gak sesedikit itu kok!
Yah, walaupun sedikit, ada juga kok cewek yang dandan kayak cewek.
Kenapa sih cowok-cowok itu harus bertindak norak?
kata temenku, Mila, cowok ITB mirip kayak Mang-Mang yang suka nongkrong di pinggir jalan.
Mang-mang itu bahkan lebih baik, karena mereka gak educated.
cowok-cowok ITB kan seharusnya pinter-pinter. Harusnya mereka tau dong kalau cewek-cewek pakai rok adalah hal lumrah, therefore ngegoda-goda-in kita norak itu sangat gak penting.
Basi banget deh!

Wednesday, April 09, 2008

Besties!

To feel bored about your friendship with your current closest friends is something that I find really weird.

But to find that your friends actually accept that you're just being weird
is something that I find even weirder.

I thought that they were all gonna get mad at me.
I mean, I don't even know that you actually can get bored with your friends' company, but I guess nothing is impossible. Even boyfriends and girlfriends or husbands and wives, they get bored and each other.
So I guess the boredom is kinda natural.

But seriously, my friends take it really easy.
They are really nice friends.

One of my friends, Dena-that is, even felt sorry because she wasn't sensitive enough to see my boredom. She said that she totally understand my feelings and it's okay for her if I find comfort in some other place without her.
That is one of the most understanding things a person has ever said to me.
I really appreciate it.

Thanks girls for accepting me as I am.
I really, truly appreciate it...

It's just, I may have to step away from you for a little while, but believe me, you won't even notice because I'm trying at my best to be a better friend.
Thanks for everything.

kok tiba-tiba?

Orang pertama

Aku ketiduran.
Bangun pagi-pagi udah ada sms-an.

Kamu emang enak sih buat diajak ngobrol.
soalnya emang lebih banyak aku yang ngomong.
tapi kok kamu tiba-tiba dodol?
ngirim sms yang isinya bikin aku jadi bengong.

aku tak brhrp
tuk jd org
trpnTg dlm hdpmu
iTu prmntaan yg trllu bsr

aku hny brhrp
suatu hr nti
kLo km dgr
namaku
km akn
trsnym dn blng..

"dy SAHABATku"
=)


Kita emang lagi ngomongin soal sms-sms lucu yang aku terima.
Kamu kok malah ikut-ikutan sok ber-rima?

Isinya emang optimis.
tapi bikin aku geli bombastis.
belum lagi cara ngetik kamu yang bikin aku jijik abis.
Kok kamu bisa tiba-tiba jadi sok puitis?


Orang kedua


Siangnya, aku lagi jalan sama teman-teman.
tiba-tiba ada lagi sms-an.

isinya pendek, cuma satu kalimat.
tapi maknanya bisa bikin aku kumat.
antara pengen marah dan pengen mengumpat

Jgn Lupa makan dhe

Menurutku maknanya penuh ambigu.
kamu bermaksud nyindir aku?
kamu kan tau aku...

menurut kamu, dengan badan sebesar aku, aku bisa lupa makan?
nahan lapar aja kayak siksaan.
salah satu hobiku kan nyariin cemilan.

Tapi, kok kamu tiba-tiba jadi perhatian?
kan kita baru aja ketemuan...
yah, walaupun cuma sebentaran...
tapi kayaknya kamu terpesona beneran...


Kesimpulan

Latian lagi ya bikin aku terpana.
soalnya aku suka gak sabar ngeliat kalimat-kalimat yang fana.
apalagi yang norak-norak dan bikin aku merana.

Saturday, April 05, 2008

One of the Best Movies that I've Seen

Vantage Point that is...

first of all, I'd like to share what 'vantage point' really is.
Here's what I got from the http://www.thefreedictionary.com/vantage+point

vantage point
n.
A position that affords a broad overall view or perspective, as of a place or situation.

Watching the movie was part of this week's Wednesday Feast.
I was really lazy to wrote some review about this movie in this past few days.
But because I like the movie so much, I HAVE to write about it.
and my goal is, to every closest friends and family that I have, will be able to watch this very cool movie.

The movie was about the assassination of US president.
They had a fake president in the movie, but it was okay.

The coolest thing about the movie was that everything that happened in the movie was actually happening in a matter of 30 minutes.
All the planning of the assassination, all the conspiracy, all the chasing, it was all done in 30 minutes.
And everything that happened in that 30 minutes was seen in different points of view.

Some random people told me that it was a boring movie, because it kept going back and forth in order to show the vantage point.
and some other people who hate thriller kind of movie was disgust by this movie and would rather choose the very cheesy and corny August Rush.

I could only say: WHATEVER!
I like this movie and I'm going to insist everyone that I know of to watch it.
Too bad I can't spoil every cool details here, because I want people to get the same exact excitement as I got when I was watching the movie.

I can tell you, though, every little details of things that I don't like about this movie:
1. I know Dennis Quaid is a good actor and he's supposed to be the hero in this movie and all, but when you were driving and got into an accident which sandwiched you between a huge truck and a wall, I thought normal people are supposed to be dead. Apparently, Dennis Quaid is not a normal person.
2. The President of USA was acting like he is the wisest president on earth. I think that's partly cool, so the current president of USA (aka Bush) would at least try to act like this fake president. Other part of it, I think (with a help of a friend of mine, Ichsan. Thanks to you, Man!), that the character of the president was built like that so people give a little respect of the USA. That's because it's one of the things that the USA likes to do, whether in movies or in real life.
3. I really hate the part where they had to mention the word "Mujahidin" in the movie. Also the fact that the suicide bomber was actually a person from somewhere in the Middle East and believes in Islam. Plus the fact that they were using the terrorist way to push people by telling the suicide bomber that the thing that he did was something to make them proud of. It's totally unnecessary.

So yeah, that's what I think...
Nothing is perfect, including great movies.
So there you go, my incomplete review (because I'm trying so hard not to spoil anything).
I hope the closest people around me would be able to watch this very cool movie.
happy watching, everyone!

Thursday, April 03, 2008

A Matter of Mere Second

It was only a matter of mere second

I saw you there
and decided to get closer.

You were standing,
and I was walking
towards you.

I put a big smile on my face,
A grin, rather.
We haven't talk for such a long time, I said.

And you just smiled.
And nodded.

You got a few things to pick up to
I got a lab that I had to run into

We smiled at each other
One last time
and I left
and you left

It was only a matter of mere second
but that particular meeting was one thing that I'd recall

Wednesday, April 02, 2008

Mulai 1 April...

Baru aja aku pulang sama temen-temenku dari the usual Wednesday Feast.
Selama di Wednesday Feast itu, salah satu hal yang diomongin adalah pengeluaran rutin aku buat biaya bensin.
Baru aja aku bilang, "sekarang harga Pertamax udah Rp 8100 loh..."
temen-temenku langsung bilang, "Mahal banget!!!!"

Trus, setelah aku mengantar teman-teman ke kost-an-nya masing-masing, aku putuskan buat ngisi bensin dulu. Takut besok gak sempet.

Pas aku nyampe pom bensin,
aku ngeliat harga Pertamax per liter-nya dan kaget.
Pertamax per liter sekarang udah Rp 8200!

Aku langsung nanya ke mas-mas-nya.
katanya emang per tanggal 1 April 2008, Pertamax yang tadinya Rp 8100 naik seratus perak.

Parah abis!
seratus perak kalo beli cuma se-liter sih gak masalah.
Kalo belinya 30 liter?
Selisih 30 ribu itu bisa makan 3 kali!

Kapitalisme sialan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

P.S. padahal ya, mama-papaku sekitar sebulan yang lalu baru diundang sama Pertamina ada acara main golf ke Batam gitu. Yang bapak-bapak main golf di Batam dan Bintan, yang ibu-ibu belanja ke Singapore. Nah, selesai dari acara itu, mereka berdua dapet kenang-kenangan dari Pertamina, yaitu: bapak-bapaknya dapat jam tangan Tag Heuer dan ibu-ibu dapet tas Braun Buffel. Setelah di konfirmasikan ke toko-toko yang bersangkutan, kedua barang itu ASLI!!! bukan tiruan Hong Kong ataupun Indonesia!